Kebingungan kaum resainans

Sepertinya lama sudah tak menengok blog urunan tulisan kami ini. Meskipun rasanya tulisan-tulisan yang ringan dan penuh perasaan sudah jarang nangkring karena kesibukan salah satu admin. Wokehhh…kali ini mau sedikit ngulik-ngulik isu kekinian yang pasti jadi bahan obrolan pasangan muda di era posmodernisme ini…wuopoooo sih.. posmodernisme…taunya kita radikalisme, itu pokoknya yang tiap hari nangkring di headlines berita, deradikalisasi.

Ahhh…seringkali kita ini kejebak sesuatu yang pada dasarnya tak bisa kita petakan kok. Lhaiyo, wong merumuskan masalah saja sekarang sudah susah. Coba aja ditengok itu, akar masalah mengapa jaman sekarang pria dan wanita harus sama-sama kerja? Nanti ada yang bilang ini kesetaraan, ada yang kontra bahwa pada dasarnya tugas wanita itu mengurus rumah.

Hellow…… seringkali cara penyederhaan masalah gini ga nemu akar masalahnya lho. Mungkin ini emang jaman bingung. Antara idealisme dan realita mana yg harus jadi standar. Ga perlu kembali pada dialelektika ide atau materi kalau gini ini. Kenyataan keseharian kita sudah begitu membingungkan bagi sebagian orang. Tetapi seringkali kebingungan itu jadi gejala banyak orang lhoo….

Kalau masalah2 umum itu bisa jadi kumpulan permasalahan individu. Cara penyelesaiannya bisa jadi struktural atau kultural. Maksudnya, kita bisa aja nyalahin keadaan sekitar atau kita malah melihat ke dalam diri kita. Kalau sebagai kaum tengahan , gue , yaelahhh gwww… welah dalah… saya (pakai nada bass dikit), memilih untuk menyimpulkan , bahwa hidup itu pilihan pribadi yang bisa berdampak pada orang lain. Tapi sekali lagi, mau kerja kantoran, mau dagang di dunia virtual atau fisik… berusaha aja jadi orang yang bener. Meski kadang kita keder, keblinger, dan keminter..tapi selama masih bisa berpikir jernih..tak ada salahnya menggali ketenangan hati tanpa perlu longak longok sana sini cara hidup orang lain.

So, selamat menikmati hidup anda sendiri. Be happy without eri meri jare Pak Kyai sing wes iso nyupir Mercy. Anganmu anganku tak pernah bertemu jare mba Raisa karo Mba Isyana. Semua punya ruang..untuk resain atau menunggu persenan.

#ManifestoResainans

Dipublikasi di Catatan Ringan | Meninggalkan komentar

Jelang 16 tahun Reformasi

Berikut adalah catatan setahun yang lalu

Tepat 15 tahun lalu, saat saya masih berumur 7 tahun lebih. menyaksikan berita dan siaran langsung pernyataan mundur dari mbah Harto. sebagai generasi 90’an, tentu saya jadi saksi sejarah masa-masa gemilang dan tumbangnya orde baru. Teringat sekali, melambungnya harga bahan bakar dan sembako dalam hitungan lebih dari dua kali lipat. Sudah 15 tahun, atau baru 15 tahun? banyak berseliweran poster yang menyiratkan rasa ‘rindu’ pada senyum mbah Harto. wajar lah, karena memang informasi belum sebebas sekarang. Dulu, berita di televisi dan surat kabar penuh dengan kata-kata manis karena sedikit saja ada pemberitaan yang oposisi, bisa dianggap menggangu stabilitas nasional. Banyak jejak peninggalan keberhasilan pembangunan di zaman mbah Harto. Namun, sisi kelam yang ditinggalkan juga tak sedikit,satu cerita dari ibu saya, dulu teman perempuan yang ingin berjilbab, harus keluar dari sekolah negeri dan masuk sekolah swasta. Saya tidak menyoroti jilbab atau bukan, tetapi hak bagi warga negara untuk melaksanaan ajaran agama. Setiap perubahan melahirkan masa transisi… sama seperti reformasi, di mana orang-orang di kahyangan sana sebagaian besar masih dalam paradigma orde baru. Generasi berikutnya yang menjadi penentu kemana arah gerbong ini bergerak, mungkin generasi saya atau di bawah saya.

Dipublikasi di Politik Ekonomi, Refleksi | Tag , | Meninggalkan komentar

Salma..

Masih teringat jelas saat setahun lalu kesedihan datang karena harus merelakan yang dinanti. Dan kini engkau hadir membawa kedamaian di hati kami. Seperti nama yang kami berikan kepadamu Nak.. Salma, engkau kami harapkan membawa kedamaian bagi dirimu sendiri dan bag sekitarmu. Dua setengah bulan telah engkau lalui, doa dan harap kami padamu tentu tak pernah berhenti. Menjadi manusia yang memanusiakan serta menjadi manusia yang sadar hakikat penciptaan. Apabila kelak engkau membaca tulisan ini, ingatlah Nak, ayahmu sedang memikirkan dirimu dan berharap dapat menjadi sandaran di saat engkau membutuhkan serta menjadi pelajaran bagimu apa-apa yang belum bisa ayah lakukan. Salma… damaikan kami… dengan senyummu

Dipublikasi di Catatan Ringan | Meninggalkan komentar

Saudi, Budaya dan Berita

Beberapa hari lalu digelar pekan kebudayaan Saudi Arabia di Museum Nasional, tepatnya 27 s.d 29 Maret 2016. Dengan rasa penasaran mencoba melihat pameran kebudayaan salah satu negara yang paling banyak dikunjungi warga negara Indonesia. Maklum saja, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu menyumbang jumlah jamaah haji yang cukup besar. Antrean yang panjang didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak yang diajak memang cukup tidak nyaman karena emosi ibu-ibu dan tangisan anak-anak yang berhimpitan. Memasuki ruang disambut pentas seni berupa musik folklore atau kalau sering dengar musik gambus ya mirip-mirip gitu deh. Berikutnya ada arena mewarnai dan melukis untuk anak-anak. Di depan area melukis ada gerai rajutan benang wol yang justru diisi orang berfoto sama abah-abah pakai gamis (-_-)a . Masuk ruangan utama pameran malah makin gak nyaman dengan teriakan anak-anak SMP yang mau keluar berlawanan dengan ibu-ibu yang mau masuk… huft… ahahaha. Ruang pameran dipenuhi antrean untuk mendapatkan kurma, air zam-zam, dan poster dua masjid suci. Untunglah… di tengah hiruk pikuk itu nampak sesosok pria bergamis dengan ikat kepala khas Saudi yang mencoba menerangkan tentang maket jembatan yang dibuat Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia untuk memudahkan jamah haji mengambil batu untuk melempar jumroh di Mina. Lagi asik-asik dengerin penjelasan eh ada ibu-ibu hebring ngajak foto si pria dengan Gamis …wkwkwk

Dalam hati masih penasaran dan mencoba mencari tahu siapa si pria bergamis yang mengawasi gerai Universitas Umm Al Quro itu… akhirnya memberanikan diri berkenalan. “Assalamualaikum” sapa hangat dari beliau. Setelah saya jawab salamnya, saya meminta kesediaan untuk bertanya tentang  Saudi. Saya bertanya apakah beliau dari Universitas Umm Al Quro, beliau menjawab benar. Ketika saya bertanya apakah beliau seorang “scholar” … ternyata beliau seorang profesor di bidang komunikasi masal 😀 . Namanya DR Osman Gazzaz, dan akhirnya saya bertanya tentang kesan yang terbentuk bahwa Saudi Arabia adalah negara yang mendukung gerakan ekstrimisme keagamaan dan menjadi salah satu sumber radikalisme dalam pemahaman Islam. Dengan tenang beliau menjawab bahwa kesan itu bisa saja muncul karena ketidakseimbangan pemberitaan yang dikuasai kelompok tertentu serta musuh politik Saudi Arabia yang tidak ingin melihat citra negara Islam yang juga berbudaya. Lanjutnya lagi, pameran kebudayaan merupakan salah satu cara menunjukan kepada masyarakat di luar Saudi Arabia bahwa Saudi Arabia juga memiliki kebudayaan yang jauh dari citra kekakuan dan kekerasan. Saya tak bisa lebih bertanya lebih banyak karena beliau sedang menjalankan tugas mengawasi gerainya yang makin penuh antrean…hehehe

Ya…sah-sah saja memang setiap orang punya pendapat masing-masing tentang sebuah negara. Kita bisa saja mengkritik Saudi Arabia ketika terjadi musibah di Mina beberapa waktu lalu. Dan muncul lah berita-berita yang tendensius dan makin melebar dari pokok permasalahan. Bisa jadi apa yang dikatakan Profesor Osman Gazzaz tersebut benar adanya dan kembali pada petuah bahwa apabila ada orang fasik yang membawa berita kepada kita sebaiknya bertabayyun atau selalu check dan re-check… Wallahualam

Dipublikasi di Catatan Ringan | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Mauku, Maumu, Mau Kita

Hari ini terlibat diskusi yang cukup seru dengan rekan sejawat… bukan rekan sejerawat ya karena ada mereka yang terlahir lebih dahulu. Mengenai kepentingan, mengenai ego, dan mengenai perikemanusiaan. Kemanusiaan memang menjadi jualan yang sunguh-sungguh menjual di era gombalisasi (baca :globalisasi) yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia tetapi seringkali mengesampingkan adanya ketidakadilan. yap…. adil adalah kata yang mudah ditulis dan diucapkan tetapi…eitss mungkin kan susah dilaksanakan karena kita punya nafsu atau mungkin kepentingan diri sendiri atau apalah namanya itu. Adil menempatkan pada tempatnya, sesuai garisan dan nalar normal. Untuk menjamin terpeliharanya nalar sehat yang menuntun pada kebenaran, bukan pada pembenaran. Tetapi, ingatlah bahwa manusia diciptakan katanya memiliki dua potensi, potensi taat atau menyimpang. Dan beruntung lah manusia yang menyucikan dirinya dari segala kepentingan tersembunyi dalam tindakannya. Kepentingan tersembunyi yang bisa menghanguskan nilai ketulusan dalam setiap perbuatannya. Ingatlah, bisa jadi diri ini melakukan suatu hal karena mengharap pujian atau mungkin yang sering digemborkan oleh motivator untuk menciptakan nilai atau membranding diri… tetapi sesungguhnya yang mengetahui diri kita sendiri adalah saat bercermin. Kata seorang teman, bercerminlah dengan dua cermin, cermin untuk melihat segala kekurangan kita, dan melihat segala kelebihan orang lain. Menjadi adil memang berat, tetapi lebih dekat pada rahmat. Dengan segala kampanye tentang pentingnya daya saing, justru saya sempat terpikir, mengapa tak ada yang dengan lantang menyuarakan kolaborasi..iya, kita mungkin telah dicuci otak untuk mengunggulkan diri, suku, bangsa, dan ras kita sendiri. Mengapa tidak kita ingat bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan menghormati. Menghormati kemanusiaan itu sendiri dengan menjalankan titah dan ketentuan dari yang menciptakannya pertama kali. Mari mulai sekarang, kita tanamkan bukan daya saing, tetapi daya dukung… daya untuk menyatukan kekuatan, berbagi hidup, dan menikmati tanpa harus memonopoli. Semoga…

Dipublikasi di Catatan Ringan, HUMANIORA | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Januari…..2015

Terlewati bulan Januari tanpa tulisan… bulan yang melambangkan keseimbangan antara sedih dan bahagia. Januari yang penuh momentum, perjalanan pahit manis kehidupan mungkin tidak bisa diukur dalam setahun. Tetapi, semua yang terjadi harus kembali pada prinsip ” menjalani yang sudah digariskan, memperjuangkan yang bisa diusahakan”.

Kutipan | Posted on by | Tag , , | Meninggalkan komentar

Secarik surat dalam rindu

Tentang 2016 yang menanti, tentang harapan setelah duka, tentang kita dan semua mimpi yang tertunda. Setelah sekian lama kita menanti, setelah jalan panjang yang kita lalui, dan setelah sekian bulan kita ada dalam ikatan suci. Dengan senyum yang selalu merekah di saat lelah selekas turun dari ular besi. Dengan candaan di saat sederet rutinitas yang terasa tak berbatas tanpa tepi. Dalam terang dan gelap kehidupan yang mungkin akan silih berganti. Biarkan luka dan lara kan berganti bahagia dan suka cita pada esok hari. Marilah kita sambut amanah Tuhan nan suci dan membawa rahmat. Malaikat kecil yang akan mengisi hari-hari kita, yang menjadi pengingat kita, penyemangat dalam lelah dan menjadi pengingat agar kita selalu bersyukur dengan karunia yang selalu dinanti.

Dipublikasi di Catatan Ringan | Meninggalkan komentar